Werkudara Senja

July 20, 2010

.

.

Matahari tertawa keras berderai,
“Kok gembira sekali hari ini?”
Wajahmu yang sendu,
Berpacu dengan detak jantungku yang menunggu
Merangkai bias – bias cahaya yang jatuh
Tak tersentuh

Diam – diam kuselipkan Satu
dalam tanganmu

Kelir warna apa saja yang di pakai ,
Untuk mengecat rasa di barat sana?
Pasti bukan yang dua belas warna
Karena yang kulihat hanya jingga
Kisah seorang pujangga
Yang masyuk bersembunyi
Diantara rabun mata hatinya

Apa yang membuat bayanganmu
Begitu
Indah tertangkap retina?

Sekali lagi bias warna itu menyeka
Wajahku yang kuyu
Hanya jingga disana
Dan kudengar Ibuku berkata:
Hari sudah senja

.

.

2002

.

Teruntuk  ingatan yang sudah mengabur,

betapa kita menua

.

.

July 17, 2010

.

setiap harinya, satu dua harapan baru saya ucapkan

kadang perlahan, seringkali dengan setengah tertahan

dari balik kelambu samar – samar terbayang wajahmu tahun lalu

.

teh dan aroma bunga

July 8, 2010

perpustakaan rumah kami

Saya rindu aroma balsem cap macan, buku – buku tua, dan juga teh manis hangat setiap sorenya.
Biasanya beliau akan menuangkan teh panas dalam pisin supaya cepat dingin, kebiasaan yang sempat saya tiru pada tahun – tahun awal.
Tertidur dalam buaian sofa tua, sendal berbulu yang empuk juga upacara mandi sore dengan menggotong kursi makan dalam kamar mandi.

Saya dibesarkan oleh seorang Bapak yang gemar mencuri sinar sore, Ibu yang pandai mendongeng, pembantu rumah tangga yang setia, dan  paling penting ; seorang nenek penggemar keroncong Jawa yang selalu memakai brylcreem di rambutnya.

Dan mereka timbul tenggelam seperti hari, bergantian memomong bumi layaknya bulan berpayung dan matahari.

Lalu beliau mengajarkan tentang para punakawan, buku harian juga Bumi Manusia.

Membuat saya mengagumi Rara Ireng, terpesona akan Khrisna dan mengagumi Janaka.

Menjelang senja beliau akan mendekatkan kursinya pada layar televisi yang memutar video beta, membacakan terjemahan serial kung fu mandarin yang sering kali terlewat diucapkan pada si cucu perempuan.

Tawanya terdengar seperti dulu, seperti juga tangannya yang berkerut dan rambutnya yang tidak pernah hitam.

Merindu itu namanya..


Teruntuk perempuan ayu yang membesarkan saya dalam ketiaknya,

semoga tidur damai dalam aroma bunga

..

July 7, 2010

pencil on paper .june2010

.

.

.

and no one belongs here more than you

.

'Rumah Pohon diatas Bantal' (marker on paper.june 2010)

Nampaknya betul apa yang angin bisikan setiap malam, bahwa katanya Tuhan itu bisa karena biasa.

Dan sebelum mendebat lebih jauh lagi saya menyadari bahwa sudah beberapa bulan lamanya sejak tulisan saya yang terakhir,  lain kata : mandeg.

Semuanya bermula dalam perjalanan sepuluh jam seusai  menghadiri resepsi pernikahan dari Yogyakarta menuju Bandung berketegangan penuh juga rasa kantuk yang kurang ajar.Perjalanan ini membuat otak  berkarat saya terpaksa bergumul dalam pemikiran harian yang tidak kunjung keluar dari dalam toplesnya.

Saya akui persepsi saya tentang resepsi pernikahan bergeser dengan cepatnya. Dimulai dari pernikahan dengan gaun berkerangka  sarang burung ala Walt Disney sampai  petasan ronce seperti Benyamin saat melamar Christine Hakim.

Ada masanya terjadi perang urat syaraf dimana kami menginginkan pernikahan sederhana berupa ijab kabul sederhana di masjid dekat rumah, berharap hanya di hadiri sanak saudara dan sahabat dekat. Makanan? Aneka jajanan pasar lengkap dengan gerobaknya. Namun ternyata resepsi bagi sebagian ‘orang lama’ telah menjadi syarat ‘sah’-nya pernikahan selain adanya mempelai, wali, saksi dan ijab kabul.

Kompromipun terjadi, akhirnya adalah pernikahan dengan bunga krisan putih murah meriah ditambah barang dua tiga tangkai lily cantik.
Dan baju pengantin? Baju pengantin saya tersimpan rapi di lemari, belum tersentuh sejak terakhir dikenakan tahun lalu.
Di atas semuanya, kehidupan pernikahan saya saat ini tidak ada hubungannya dengan acara-acara adat yang kami tinggalkan, ataupun dekorasi tambal sulam di balai pertemuan yang setiap minggunya dipakai  Jumatan.

Setelah hari yang meriah berlalu, meninggalkan makanan yang kebanyakan, bunga-bunga kering dan pelunasan hutang; besok pagi tetap menjadi Senin yang kemarin sebelum alis mata dicukur setengah habis dan ritual menghalau hujan dengan melempar celana dalam ke atas atap rumah.

Saya sendiri berpikir, tidak penting dimanapun pernikahan itu dilakukan, seberapa cantik dekorasi yang di gunakan ataupun jumlah undangan yang datang. Pada akhirnya di sebuah pagi yang cerah ataupun sore yang sedikit mendung, hanya ada saya dan kamu. Berbagi cerita juga menyusun pengharapan, entah di dalam kereta ataupun tikar sederhana.Dan kali ini tanpa hiasan bunga maupun gending Jawa.

.

“Saya tidak percaya bahwa resepsi pernikahan adalah representasi kehidupan pernikahan di depan. Tidakkah terdengar seperti sebuah jebakan betmen? Dan di belakang sana orang – orang menertawai keras-keras..nyam..nyam..”
Indrawan, suami saya, sambil mengunyam arem-arem ayam
.

.

“So it’s not gonna be easy. It’s going to be really hard; we’re gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, everyday. You and me… everyday”  Noah to Allie, Notebook.

.

Dajjal Model Baru

July 1, 2010

marker on paper.june 2010.

.

.

Tidak ada hubungannya dengan hal lain kecuali napsu duniawi yang dipengaruhi kotak berwarna berjudul televisi.

Seandainya tidak ingat nenek moyang juga kolam susu yang di gembar-gemborkan Koes Bersaudara ingin rasanya saya terbang ke negeri seberang (dan seberangnya lagi).
Menetap kemudian beranak pinak dengan damai disana.

.

.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.