teh dan aroma bunga
July 8, 2010
Saya rindu aroma balsem cap macan, buku – buku tua, dan juga teh manis hangat setiap sorenya.
Biasanya beliau akan menuangkan teh panas dalam pisin supaya cepat dingin, kebiasaan yang sempat saya tiru pada tahun – tahun awal.
Tertidur dalam buaian sofa tua, sendal berbulu yang empuk juga upacara mandi sore dengan menggotong kursi makan dalam kamar mandi.
Saya dibesarkan oleh seorang Bapak yang gemar mencuri sinar sore, Ibu yang pandai mendongeng, pembantu rumah tangga yang setia, danĀ paling penting ; seorang nenek penggemar keroncong Jawa yang selalu memakai brylcreem di rambutnya.
Dan mereka timbul tenggelam seperti hari, bergantian memomong bumi layaknya bulan berpayung dan matahari.
Lalu beliau mengajarkan tentang para punakawan, buku harian juga Bumi Manusia.
Membuat saya mengagumi Rara Ireng, terpesona akan Khrisna dan mengagumi Janaka.
Menjelang senja beliau akan mendekatkan kursinya pada layar televisi yang memutar video beta, membacakan terjemahan serial kung fu mandarin yang sering kali terlewat diucapkan pada si cucu perempuan.
Tawanya terdengar seperti dulu, seperti juga tangannya yang berkerut dan rambutnya yang tidak pernah hitam.
Merindu itu namanya..
Teruntuk perempuan ayu yang membesarkan saya dalam ketiaknya,
semoga tidur damai dalam aroma bunga

July 11, 2010 at 4:53 pm
sweet
July 12, 2010 at 3:04 pm
pantas cucunya jadi macam ini
July 18, 2010 at 2:17 am
Manis dan luhur sekali bahasanya. Saya belum mengenal anda, nyaris menitikkan air mata.
July 30, 2010 at 2:07 am
Wiiid… sedih banget,
aku jadi kangen Yangti… hiks