Cinta Dalam Sepotong Roti (Bakar)
August 26, 2010
Saya sering lupa,
kamu lupa,
tetangga sebelah juga lupa.
Manusia memang pelupa. Takdir namanya.
.
Kalau sedang malas biasanya saya akan berteriak manja minta satu gelas teh manis panas,
atau semangkuk sup beraroma cendawan saat sakit yang kadang dibuat – buat.
Tapi Bapak selalu datang dengan mi rebus isi sayur,
atau roti bakar kelas dua yang dibuat tengah malam buta.
Masih bersepatu saya terus mendengar mesin jahitnya bersahut-sahutan,
lupa akan lelahnya tentu, masih sempat bertanya apa ada yang diinginkan di dapur yang pas-pasan.
.
Dan saya hanya mangap saja.
.
.
Saya ingin bisa mengembalikan hujan yang datang saat kamu berlari membeli sebotol minyak angin, atau saluran televisi yang acak-acakan.
Dan saya akan lupakan,
semua kebohongan yang pernah terkatakan
.
Penonton yang marah
August 21, 2010
Sungguh saya ingin menangkap kesempatan yang datang sebentar-sebentar,
membisikan kata-kata setan dan sejuta umpatan kasar.
Sayangnya hujan datang buru-buru, memaksa mundur kembali cepat-cepat.
Mungkin angin terlalu akrab dengan awan sehingga konspirasi tingkat tinggi terjadi sekali lagi.
Lalu saya melepaskan rumput-rumput yang dimakan banjir,
menyerah pada lumpur dan arus air.
Saya terluka sedikit.
Berharap sutradaranya datang lebih pagi sehingga saya bisa ikut masuk dalam televisi.