Cinta Dalam Sepotong Roti (Bakar)

August 26, 2010

Saya sering lupa,

kamu lupa,

tetangga sebelah juga lupa.

Manusia memang pelupa. Takdir namanya.

.

Kalau sedang malas biasanya saya akan berteriak manja minta satu gelas teh manis panas,

atau semangkuk sup beraroma cendawan saat sakit yang kadang dibuat – buat.

Tapi Bapak selalu datang dengan mi rebus isi sayur,

atau roti bakar kelas dua yang dibuat tengah malam buta.

Masih bersepatu saya terus mendengar mesin jahitnya bersahut-sahutan,

lupa akan lelahnya tentu, masih sempat bertanya apa ada yang diinginkan di dapur yang pas-pasan.

.

Dan saya hanya mangap saja.

.

.

Saya ingin bisa mengembalikan hujan yang datang saat kamu berlari membeli sebotol minyak angin, atau saluran televisi yang acak-acakan.

Dan saya akan lupakan,

semua kebohongan yang pernah terkatakan

.

Advertisement

3 Responses to “Cinta Dalam Sepotong Roti (Bakar)”


  1. silahkan masuk, pintunya tidak pernah ditutup :)

  2. fraxis Says:

    salam kenal. bagus sekali puisimu teman, ringan tapi dalam. salam pejuang mimpi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.