.
Saya menitipkan harapan – harapan pada angin,
Lalu bersandar dan berjalan mengatas namakan Tuhan.
Karena Tuhan tidak pernah bohong,
dan karena Tuhan yang menghembuskan empat penjuru mata anginnya.
**
Dan dalam sebuah pertempuran,
separuh jiwa ini terserabut entah kemana
.
.