August 26, 2014

Beberapa hal yang saya sesali dalam hidup dan akan terus resonansi entah sampai kapan.

Satu yang pasti dan saya amini sampai hari ini, bahwa tidak pernah ada cinta yang terlalu besar dan tidak pernah ada sayang yang terlalu. Pada akhirnya yang akan kita sesali adalah saat menyadari betapa sedikitnya kasih sayang yang kita bagi pada sesuatu yang tidak pernah kembali.

Just like what my hero once said,

and in the end, the love you take is equal to the love you make.’

 

2014

February 28, 2014

It’s been a while.

 

Well,

I miss you

Sakit

October 25, 2012

Damansara Perdana,
25 Oktober 2012
 

Sudah masuk hari ke empat sejak Ibu mengabarkan tentang hasil USG nya pada saya. Tepat sebulan yang lalu beliau masuk Unit Gawat Darurat karena sakit yang luar biasa di bagian perut, di hari yang sama saya ditolak masuk imigrasi Singapura dan terpaksa ‘dipulangkan’ dari embarkasi Johor Bharu kembali ke Kuala Lumpur. Dua berita yang cukup memukul belakang kepala saya hingga pingsan di kasur seharian. Sejak saat itu Ibu sudah tiga kali keluar masuk UGD tanpa kejelasan tentang penyakitnya, sampai empat hari yang lalu. Dan saya? Berusaha mencari semua jalan yang mungkin dilalui untuk ijin tinggal secara legal di Malaysia.

“Mbak, katanya ada benda asing di perut ibu..”

Adik saya mengabarkan hari Senin yang lalu.
Benda asing tersebut berukuran tujuh kali enam sentimeter dan belum bisa di deteksi lebih lanjut. Sedih, khawatir juga takut berbaur menjadi satu. Tentunya tidak pernah ada waktu yang tepat untuk kabar buruk, dan manusia tidak akan pernah benar – benar siap. Lalu terpikir orang – orang yang saya cintai disana. Ibu, si sakit, yang lebih membutuhkan dorongan juga semangat daripada airmata; adik – adik saya yang harusnya mencontoh seorang kakak untuk bisa berdiri lebih tegak ; Bapak, seorang yang optimisme-nya harus dipompa terus menerus; dan Indrawan, sang suami, yang akan cemas bila istrinya tidak bisa menjaga dirinya sendiri di negeri orang.

Tentunya, bukan saya tidak sedih. Bukan pula saya ingin dikasihani. Saya ingin hidup lebih baik, lebih sehat, dan memberikan kenangan yang baik pada orang – orang disekitar. Bolehkah saya menghapus semua rengekan dan keluhan yang pernah saya ucapkan?

Ternyata hidup masih sangat baik.

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya disuatu hari nanti.
Bahwa  apa yang terjadi hari ini bukanlah sekedar memori palsu atau kenangan yang dimodifikasi.

September 24, 2010

.

Saya menitipkan harapan – harapan pada angin,

Lalu bersandar dan berjalan mengatas namakan Tuhan.

Karena Tuhan tidak pernah bohong,

dan karena Tuhan yang menghembuskan empat penjuru mata anginnya.

**

Dan dalam sebuah pertempuran,

separuh jiwa ini terserabut entah kemana

.

.

.

September 11, 2010

..

Kamu penangkap uap air

dan mengumpulkannya menjadi hujan.

.

Saya terkejut menyadari betapa kamu mencintai hujan.

Datang dan bersembunyi sebentar – sebentar tanpa takut kebasahan.

Kepada matahari mungkin merasa malu,

karenanya kau kenakan selendang biru di atas kepalamu.

Aku menggigil karena tetesan air yang sudah surut sejak semalam,

takutnya masih tersisa, sedihnya dibawa sampai tua,

tapi,

katamu hujan itu bahagia.

Saya sering lupa,

kamu lupa,

tetangga sebelah juga lupa.

Manusia memang pelupa. Takdir namanya.

.

Kalau sedang malas biasanya saya akan berteriak manja minta satu gelas teh manis panas,

atau semangkuk sup beraroma cendawan saat sakit yang kadang dibuat – buat.

Tapi Bapak selalu datang dengan mi rebus isi sayur,

atau roti bakar kelas dua yang dibuat tengah malam buta.

Masih bersepatu saya terus mendengar mesin jahitnya bersahut-sahutan,

lupa akan lelahnya tentu, masih sempat bertanya apa ada yang diinginkan di dapur yang pas-pasan.

.

Dan saya hanya mangap saja.

.

.

Saya ingin bisa mengembalikan hujan yang datang saat kamu berlari membeli sebotol minyak angin, atau saluran televisi yang acak-acakan.

Dan saya akan lupakan,

semua kebohongan yang pernah terkatakan

.

Penonton yang marah

August 21, 2010

Sungguh saya ingin menangkap kesempatan yang datang sebentar-sebentar,
membisikan kata-kata setan dan sejuta umpatan kasar.
Sayangnya hujan datang buru-buru, memaksa mundur kembali cepat-cepat.
Mungkin angin terlalu akrab dengan awan sehingga konspirasi tingkat tinggi terjadi sekali lagi.

Lalu saya melepaskan rumput-rumput yang dimakan banjir,
menyerah pada lumpur dan arus air.

Saya terluka sedikit.

Berharap sutradaranya datang lebih pagi sehingga saya bisa ikut masuk dalam televisi.