September 24, 2010

.

Saya menitipkan harapan – harapan pada angin,

Lalu bersandar dan berjalan mengatas namakan Tuhan.

Karena Tuhan tidak pernah bohong,

dan karena Tuhan yang menghembuskan empat penjuru mata anginnya.

**

Dan dalam sebuah pertempuran,

separuh jiwa ini terserabut entah kemana

.

.

Advertisements

4 Responses to “”

  1. whiteblankspace Says:

    cantikmu beresonansi 🙂


  2. opo iki, saya kudu mikir sik…

  3. Akbar_BRDC Says:

    Halo salam kenal ..
    bagus infonya di blognya ..
    btw suka nulis artikel tentang Bandung ?
    klo suka, share artikelnya di Citizen Journalism web kita yah ..
    Thx

  4. hanhan Says:

    Semoga harapan-harapan itu tak kan pernah pupus…..


Comments are closed.

%d bloggers like this: