Sakit

October 25, 2012

Damansara Perdana,
25 Oktober 2012
 

Sudah masuk hari ke empat sejak Ibu mengabarkan tentang hasil USG nya pada saya. Tepat sebulan yang lalu beliau masuk Unit Gawat Darurat karena sakit yang luar biasa di bagian perut, di hari yang sama saya ditolak masuk imigrasi Singapura dan terpaksa ‘dipulangkan’ dari embarkasi Johor Bharu kembali ke Kuala Lumpur. Dua berita yang cukup memukul belakang kepala saya hingga pingsan di kasur seharian. Sejak saat itu Ibu sudah tiga kali keluar masuk UGD tanpa kejelasan tentang penyakitnya, sampai empat hari yang lalu. Dan saya? Berusaha mencari semua jalan yang mungkin dilalui untuk ijin tinggal secara legal di Malaysia.

“Mbak, katanya ada benda asing di perut ibu..”

Adik saya mengabarkan hari Senin yang lalu.
Benda asing tersebut berukuran tujuh kali enam sentimeter dan belum bisa di deteksi lebih lanjut. Sedih, khawatir juga takut berbaur menjadi satu. Tentunya tidak pernah ada waktu yang tepat untuk kabar buruk, dan manusia tidak akan pernah benar – benar siap. Lalu terpikir orang – orang yang saya cintai disana. Ibu, si sakit, yang lebih membutuhkan dorongan juga semangat daripada airmata; adik – adik saya yang harusnya mencontoh seorang kakak untuk bisa berdiri lebih tegak ; Bapak, seorang yang optimisme-nya harus dipompa terus menerus; dan Indrawan, sang suami, yang akan cemas bila istrinya tidak bisa menjaga dirinya sendiri di negeri orang.

Tentunya, bukan saya tidak sedih. Bukan pula saya ingin dikasihani. Saya ingin hidup lebih baik, lebih sehat, dan memberikan kenangan yang baik pada orang – orang disekitar. Bolehkah saya menghapus semua rengekan dan keluhan yang pernah saya ucapkan?

Ternyata hidup masih sangat baik.

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya disuatu hari nanti.
Bahwa  apa yang terjadi hari ini bukanlah sekedar memori palsu atau kenangan yang dimodifikasi.
Advertisements
%d bloggers like this: